Selamat datang di The Journey...Semoga mendapat manfaat dari ini...

The Journey

The Journey
Selamat Datang ! Suatu kehormatan bagi the Journey atas kunjungan ini. Semoga mendapat sesuatu yang bermanfaat di Blog ini

daftar isi

Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 April 2014

SEPUTAR FATWA HARAM GOLPUT OLEH MUI




Saat ini mayoritas negara-negara muslim menghadapi cobaan (berat) dalam memilih pemimpin (kepala negara) mereka melalui cara pemilihan umum, yang ini merupakan (penerapan) sistem demokrasi yang sudah dikenal. Padahal terdapat perbedaan yang sangat jauh antara sistem demokrasi dan (syariat) Islam (dalam memilih pemimpin).
pemilihan umum dalam sistem demokrasi telah diketahui, yaitu dilakukan dengan cara memilih seseorang atau beberapa orang tertentu sebagai calon DPR, DPD, atau Presiden. Semua perempuan dan laki-laki juga ikut memilih, tanpa mempertimbangkan/membedakan orang yang banyak berbuat maksiat atau orang shaleh yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Semua ini (jelas) merupakan pelanggaran terhadap (syariat) Islam. Sesungguhnya para sahabat yang membai’at (memilih) Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu (sebagai khalifah/pemimpin kaum muslimin sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) di saqiifah (ruangan besar beratap tempat pertemuan) milik (suku) Bani Saa’idah, tidak ada seorang perempuan pun yang ikut serta dalam pemilihan tersebut. Karena urusan siyasah (politik) tidak sesuai dengan tabiat (fitrah) kaum perempuan, sehingga mereka tidak boleh ikut berkecimpung di dalamnya. Dan ini termasuk pelanggaran (syariat Islam), padahal Allah Ta’ala berfirman:
وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى
“Dan laki-laki tidaklah seperti perempuan.” (Qs. Ali ‘Imraan: 36)
Maka bagaimana kalian (wahai para penganut sistem demorasi) menyamakan antara laki-laki dan perempuan, padahal Allah yang menciptakan dua jenis manusia ini membedakan antara keduanya?! Allah Ta’ala berfirman:
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ
“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.” (Qs. al-Qashash: 68)
Di sisi lain Allah Ta’ala berfirman:
أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ
“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir). Mengapa kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (Qs. al-Qalam: 35 – 36)
Akan tetapi, sebagian dari para ulama zaman sekarang berpendapat bolehnya ikut serta dalam pemilihan umum dalam rangka untuk memperkecil kerusakan (dalam keadaan terpaksa). Meskipun mereka mengatakan bahwa (hukum) asal (ikut dalam pemilihan umum) adalah tidak boleh (haram). Mereka mengatakan: Kalau seandainya semua orang diharuskan ikut serta dalam pemilu, maka apakah anda ikut memilih atau tidak? Mereka berkata: anda ikut memilih dan pilihlah orang yang paling sedikit keburukannya di antara mereka (para kandidat yang ada). Karena umumnya mereka yang akan dipilih adalah orang-orang yang mencalonkan) diri mereka dalam pemilihan tersebut. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu:
“Janganlah engkau (berambisi) mencari kepemimpinan, karena sesungguhnya hal itu adalah kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat nanti.” (Gabungan dua hadits shahih riwayat imam al-Bukhari (no. 6248) dan Muslim (no. 1652), dan riwayat Muslim (no. 1825))
Maka orang yang terpilih dalam pemilu adalah orang yang (berambisi) mencari kepemimpinan, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang (berambisi) mencari kepemimpinan maka dia akan diserahkan kepada dirinya sendiri (tidak ditolong oleh Allah dalam menjalankan kepemimpinannya).” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lain-lain, dinyatakan lemah oleh syaikh al-Albani dalam “adh-Dha’iifah” (no. 1154). Lafazh hadits yang shahih Riwayat al-Bukhari dan Muslim: “Jika engkau menjadi pemimpin karena (berambisi) mencarinya maka engkau akan diserahkan kepadanya (tidak akan ditolong oleh Allah).”
mereka berpendapat seperti ini dalam rangka menghindari atau memperkecil kerusakan (yang lebih besar). Ini kalau keadaannya memaksa kita terjeremus ke dalam dua keburukan (jika kita tidak memilih). Adapun jika ada dua orang calon (pemimpin yang baik), maka kita memilih yang paling berhak di antara keduanya.
Akan tetapi jika seseorang tidak mengetahui siapa yang lebih baik (agamanya) di antara para kandidat yang ada, maka bagaimana mungkin kita mewajibkan dia untuk memilih, padahal dia sendiri mengatakan: aku tidak mengetahui siapa yang paling baik (agamanya) di antara mereka. Karena Allah Ta’ala berfirman:
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (Qs. al-Israa’: 36)
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menipu/mengkhianati kami maka dia bukan termasuk golongan kami.” (HSR Muslim (no. 101)). Jika anda memilih orang yang anda tidak ketahui keadaannya maka ini adalah penipuan/pengkhianatan.
Demikian pula, jika ada seorang yang tidak merasa puas dengan kondisi pemilu (tidak memandang bolehnya ikut serta dalam pemilu) secara mutlak, baik dalam keadaan terpaksa maupun tidak, maka bagaimana mungkin kita mewajibkan dia melakukan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam?!
Maka kita meyakini bahwa Allah Ta’ala Dialah yang memilih untuk umat ini pemimpin-pemimpin mereka. Kalau umat ini baik maka Allah akan memilih untuk mereka pemimpin-pemimpin yang baik pula, (sebaliknya) kalau mereka buruk maka Allah akan memilih untuk mereka pemimpin-pemimpin yang buruk pula. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضاً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (Qs. al-An’aam: 129)
Maka orang yang zhalim akan menjadi pemimpin bagi masyarakat yang zhalim, demikianlah keadaannya.
Pada bulan lalu tidak kurang 700 ulama negeri ini yang tergabung didalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah berkumpul di Sumatera Barat dan diantara keputusannya adalah terkait dengan masalah golput didalam Pemilu.
Fatwa atau ifta’ adalah penjelasan tentang hukum syar’i dari suatu permasalahan umat yang merupakan suatu jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Sedangkan orang yang melakukan tugas ini disebut dengan mufti. Ia adalah seorang yang mengetahui tentang hukum-hukum syari’ah, berbagai persoalan, kejadian dan telah dianugerahi dengan ilmu serta memiliki kemampuan untuk mengambil dari dalil-dalil hukum syar’i.
Tugas ini begitu besar nilainya di sisi Allah swt sehingga seorang mufti dianggap sebagai wakil Allah didalam memberikan penjelasan tentang hukum-hukum yang terdapat di dalam Al Qur’an maupun Sunnah. Untuk itu Ibnul Qoyyim menyebutkan bahwa seorang mufti adalah ‘petugas resmi’ Allah terhadap apa yang difatwakannya. Firman Allah swt :
يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلاَلَةِ
Artinya : “mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah.” (QS. An Nisaa : 176)
Orang yang pertama bertugas memberikan penjelasan tentang hukum-hukum Allah swt kepada umat adalah Rasulullah saw, kemudian para sahabat, tabi’in, tabi’i tabi’in hingga para ulama sampai dengan hari ini.
Pemberian fatwa ini, selain dilakukan oleh perorangan (alim) ia juga bisa dilakukan oleh sekelompok orang (ulama) atau suatu lembaga fatwa di suatu tempat atau negeri tertentu, seperti MUI di Indonesia.
Adapun terkait fatwa yang telah diambil seorang mufti atau lembaga fatwa maka pada dasarnya ia tidak mengikat kecuali terhadap :
1.Orang yang bertanya kepada mufti’.
Syeikh Jadul Haq Ali Jadil Haq, Mufti di Negara Mesir pada tahun 80-an mengatakan bahwa sesungguhnya fatwa hanyalah sebatas penjelasan hukum syar’i terhadap realita yang ditanyakan. Karena itu fatwa tidaklah memiliki kekuatan mengikat namun demikian ia memiliki kekuatan mengikat terhadap orang yang meminta fatwa dari beberapa sisi :
a. Komitmen orang yang meminta fatwa untuk beramal takwa.
b. Upaya penerapan hukum yang telah disingkap melalui fatwa.
c. Apabila hatinya merasa nyaman dengan kebenaran fatwa dan mempercayainya maka ia terikat dengan fatwa tersebut.
d. Apabila upayanya memiliki keterbatasan terhadap permasalahan yang terjadi sementara ia tidak mendapati mufti selainnya maka ia harus mengambil fatwa tersebut. Adapun apabila dia mendapatkan mufti lainnya yang sependapat dengan fatwa pertama maka ia terikat olehnya. Apabila berbeda diantara keduanya dan tampak kebenaran pada salah satunya maka ia harus mengamalkan fatwa yang tampak kebenarannya itu.
2. Seorang mujtahid yang melihat fatwa tersebut dengan menggunakan dalil-dalil syar’i dan melihat bahwa fatwa tersebut benar.
3. Orang-orang yang taqlid (tidak memiliki kapasitas ilmu terhadap permasalahan itu) dan meyakini kebenaran fatwa tersebut.
Ibnu Qoyyim mengatakan bahwa sesungguhnya fatwa mufti bersifat syari’at lagi umum berkaitan dengan orang yang bertanya ataupun selainnya. Adapun seorang hakim maka hukumnya bersifat parsial lagi khusus tidak menyangkut orang yang tidak dihukum. Seorang mufti memberikan fatwa dalam hal hukum yang umum lagi menyeluruh, yaitu siapapun orang yang melakukan hal itu maka ia termasuk didalamnya dan siapa pun yang mengatakan hal itu maka ia terikat dengan fatwa itu. Sedangkan hakim memutuskan suatu keputusan tertentu terhadap orang tertentu dan keputusannya itu bersifat khusus lagi mengikat. Dan fatwa seorang alim bersifat umum dan tidak mengikat. Keduanya mendapatkan pahala yang besar namun dengan resiko yang besar pula. (I’lamul Muwaqqi’in juz I hal 46)
Diantara point-point dari Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang tidak menggunakan hak pilih didalam Pemilihan Umum :
Salah satu dari dua rekomendasinya :
“Umat Islam dianjurkan untuk memilih pemimpin dan wakil-wakilnya yang mengemban tugas amar ma’ruf nahi munkar.”
Butir-butir yang menjadi landasan rekomendasi tersebut :
butir ke-4 : Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (shidiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangkan kepentingan umat islam hukumnya adalah wajib.
butir ke-5 : Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 1 (satu) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.
butir ke-1 : Pemilihan Umum dalam pandangan islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa.
Dan jika kita perhatikan dari point-point diatas tampak MUI begitu bijaksana dan sangat berhati-hati. Hal itu terlihat dari adanya tiga hukum yang terkait dengan penggunaan hak pilih didalam pemilihan umum :
1. Dianjurkan (mandub atau sunnah) yang ada didalam rekomendasi.
2. Wajib yang ada didalam butir ke-4.
3. Haram namun dengan persyaratan yaitu, haram golput selama ada calon yang memenuhi syarat, pada butir ke-5.
Didalam butir ke-5 tidak ada penjelasan rinci tentang kata-kata ‘memenuhi syarat’, apakah yang dimaksud syarat-syarat yang disebutkan didalam butir ke-1 atau butir ke-4 atau kedua-duanya.
Isi butir ke-5 “….. atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.” dan jika menggunakan pemahaman berbalik maka bisa diartikan dengan “…. atau tidak memilih sama sekali (golput) ketika tidak ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah tidak haram”
Kemudian didalam Rekomendasinya MUI menganjurkan umat islam untuk memilih pemimpin dan wakil-wakilnya yang mengemban tugas amar ma’ruf nahi munkar. Kata-kata ‘menganjurkan’ berbeda dengan ‘mewajibkan’ begitu pula didalam konsekuensi hukumnya. Artinya seorang muslim yang melakukan perintah tersebut akan mendapatkan pujian dan pahala dari Allah swt dan jika ia tidak melakukannya maka ia tidaklah tercela dan tidak juga mendapatkan dosa dari-Nya.
Dari butir ke-5 dan rekomendasi tersebut tampak tidak ada pengharaman GOLPUT oleh MUI secara mutlak namun demikian MUI menganjurkan agar umat islam memilih orang-orang yang mengemban amar ma’ruf nahi munkar.
Kemudian ukuran apakah seorang calon pemimpin atau wakil rakyat memenuhi syarat-syarat diatas atau tidak, siap mengemban tugas amar ma’ruf nahi munkar atau tidak akan berpulang kepada pengetahuan dan pemahaman setiap pemilih yang memungkinkan terjadinya perbedaan diantara mereka. Bisa saja seorang pemilih melihat seorang calon pemimpin atau wakil rakyat telah memenuhi syarat namun tidak menurut yang lainnya. Bisa saja seorang pemilih melihat seorang calon dapat mengemban tugas amar ma’ruf nahi munkar namun tidak menurut yang lainnya.
Dengan demikian—wallahu a’lam—pada akhirnya putusan akan dikembalikan kepada ijtihad (upaya sungguh-sungguh) setiap pemilih muslim dalam melihat semua calon pemimpin maupun wakil-wakilnya dan hendaknya dia menghindari adanya faktor-faktor emosional didalam ijtihadnya itu, seperti : semata-mata hanya karena satu etnis, daerah, profesi, kelompok, organisasai atau balas jasa yang dapat merusak obyektifitas dalam memberikan penilaian. Dan keputusan apa pun yang dihasilkan seorang pemilih dari upayanya itu maka ia tidak akan keluar dari apa yang difatwakan MUI.
Selama upaya tersebut diniatkan semata-mata beribadah kepada Allah dan untuk kebaikan islam dan kaum muslimin maka akan mendapatkan pahala dari Allah swt.

baca selengkapnya...

Sabtu, 01 Oktober 2011

JILBAB



Sobat, kalo loe seorang muslimah yang belum berjilbab dan disuruh untuk memakai jilbab sekarang dan untuk selamanya, kira-kira mau ga ??!. Tentu ada yang jawab “ya, mau” , atau “tak pikir-pikir dulu deh”. Juga mungkin ga jarang yang akan menjawab “gak mau, belum siap!!”. dan sebagainya. Tentu bukan tujuannya saya memaksa yang lagi baca artikel ini tuk berjilbab (apalagi kalo loe cowok, gak terbayang kan betapa ”cantik”nya loe...he..he)...apapun jawaban loe, loe kayaknya harus baca nih artikel deh, apalagi kalo loe cewek, dah baligh lagi...


Dalam tulisan kali ini, saya berupaya untuk mendahulukan dalil naqli (nash baik dari Al Qur’an maupun Hadist Rasul) dan berupaya seminimal mungkin memberikan opini (kecuali fakta yang saya gali dari berbagai sumber). Mengapa ? karena saya berusaha mengupas pembahasan yang saya sendiri tidak memakainya (terbayang ga kalo saya pake jilbab??) tapi tentu saya mengimani dan meyakini apa-apa yang saya tulis (berupa saduran nash).

DEFINISI JILBAB
Secara bahasa, dalam kamus al Mu’jam al Wasith 1/128, disebutkan bahwa jilbab memiliki beberapa makna, yaitu:
Qomish (sejenis jubah) = Kain yang menutupi seluruh badan.
Khimar (kerudung) = Pakaian atasan seperti milhafah (selimut).
Adapun secara istilah, berikut ini perkataan para ulama’ tentang hal ini.
1. Ibnu Hazm rahimahulloh mengatakan, “Jilbab menurut bahasa Arab yang disebutkan oleh Rasulullah shallAllohu ‘alaihi wa sallam adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, bukan hanya sebagiannya.” Sedangkan Ibnu Katsir mengatakan, “Jilbab adalah semacam selendang yang dikenakan di atas khimar yang sekarang ini sama fungsinya seperti izar (kain penutup).” (Syaikh Al Bani dalam Jilbab Muslimah).
2. Syaikh bin Baz (dari Program Mausu’ah Fatawa Lajnah wal Imamain) berkata, “Jilbab adalah kain yang diletakkan di atas kepala dan badan di atas kain (dalaman). Jadi, jilbab adalah kain yang dipakai perempuan untuk menutupi kepala, wajah dan seluruh badan. Sedangkan kain untuk menutupi kepala disebut khimar. Jadi perempuan menutupi dengan jilbab, kepala, wajah dan semua badan di atas kain (dalaman).” (bin Baz, 289). Beliau juga mengatakan, “Jilbab adalah rida’ (selendang) yang dipakai di atas khimar (kerudung) seperti abaya (pakaian wanita Saudi).” (bin Baz, 214). Di tempat yang lain beliau mengatakan, “Jilbab adalah kain yang diletakkan seorang perempuan di atas kepala dan badannnya untuk menutupi wajah dan badan, sebagai pakaian tambahan untuk pakaian yang biasa (dipakai di rumah).” (bin Baz, 746). Beliau juga berkata, “Jilbab adalah semua kain yang dipakai seorang perempuan untuk menutupi badan. Kain ini dipakai setelah memakai dar’un (sejenis jubah) dan khimar (kerudung kepala) dengan tujuan menutupi tempat-tempat perhiasan baik asli (baca: aurat) ataupun buatan (misal, kalung, anting-anting, dll).” (bin Baz, 313).

DALIL-DALIL TENTANG JILBAB
1. Surat 24 An Nur ayat 31
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
2. Surat 33 Al Ahzab ayat 59
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
3. Sabda Rasulullah SAW
• Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukul orang lain dan para wanita yang berpakaian tapi auratnya terlihat, yang berjalan melenggak-lenggok, sedangkan kepala mereka bagaikan punuk unta yang miring. Mereka itu tidak akan masuk ke dalam surga dan juga tidak akan mencium bau surga. Padahal, harum semerbak surga itu dapat dirasakan dari jarak yang begini dan begini.” [Muslim 6/168]
• Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk keluar pada Hari Fitri dan Adha, baik gadis yang menginjak akil balig, wanita-wanita yang sedang haid, maupun wanita-wanita pingitan. Wanita yang sedang haid tetap meninggalkan shalat, namun mereka dapat menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslim. Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab?" Rasulullah saw. menjawab, "Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya." (HR Muslim)
• "Siapa saja yang menyeret bajunya lantaran angkuh, Allah tidak akan melihatnya pada Hari Kiamat." Ummu Salamah bertanya, "Lalu bagaimana dengan ujung-ujung pakaian kami?" Beliau menjawab, "Turunkanlah satu jengkal." Ummu Salamah bertanya lagi, "Kalau begitu, telapak kakinya tersingkap." Lalu Rasulullah saw. bersabda lagi, "Turunkanlah satu hasta dan jangan lebih dari itu." (HR at-Tirmidzi).
• Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Ummu al-Walad Abdurrahman bin Auf; ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah ra. tentang ujung pakainnya yang panjang dan digunakan berjalan di tempat yang kotor. Ummu Salamah menjawab bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: Yuthahhiruhu mâ ba'dahu (Itu disucikan oleh apa yang sesudahnya).

SYARAT-SYARAT JILBAB
a. Hendaknya jilbab menutup seluruh tubuh dan tidak menampakkan anggota tubuh sedikitpun selain yang dikecualikan, sebagaimana Firman Allah dalam QS An Nuur:31 dan QS Al-Ahzab: 59
b. Hendaknya jilbab tidak menarik perhatian pandangan laki-laki bukan mahram. Agar jilbab tidak memancing pandangan kaum laki-laki maka harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
- Jilbab terbuat dari kain yang tebal sehingga tidak menampakkan warna kulit tubuh.
- Jilbab longgar dan tidak menampakkan bentuk anggota tubuh.
- Jilbab bukan merupakan pakaian kebanggaan dan kesombongan. Berdasarkan sabda Rasulullah berikut, "Barangsiapa yang mengenakan pakaian kesombongan di dunia maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan nanti pada hari kiamat kemudian ia dibakar dalam Neraka". (HR Abu Daud dan Ibnu Majah, dan Hadits ini hasan).
- Jilbab tidak diberi parfum atau wewangian. Dasarnya adalah hadits Rasulallah "Siapapun wanita yang mengenakan wewangian lalu melewati segolongan orang agar mereka mencium baunya, maka ia adalah wanita Pezina". (HR Abu Daud, Nasa'I dan Tirmizi dan hadits ini hasan).
- Hendaknya jilbab yang dikenakan tidak menyerupai pakaian laki-laki atau pakaian wanita kafir. Sabda Rasulullah: "Barangsiapa yang menyerupai kaum maka dia termasuk bagian dari mereka". (HR Ahmad dan Abu Daud). Rasulullah mengutuk laki-laki yang mengenakan pakaian wanita serta mengutuk wanita yang berpakaian seperti laki-laki.(HR Abu Daud Nasa'I dan Ibnu Majah dan hadits ini shahih).

10 ALASAN MENGAPA WANITA ENGGAN BERJILBAB
1. Jilbab tidak menarik.
Justru laki-laki soleh hanya akan tertarik pada wanita solehah juga (berjilbab).
2. Takut durhaka kepada orang tuanya yang melarangnya berpakaian jilbab.
Tentunya kita harus memberitahu ke ortu tentang kewajiban menggunakan jilbab, dengan cara yang santun
3. Tidak bisa membeli pakaian yang banyak memerlukan kain.
Jika tidak mampu beli, maka kewajiban Saudara, Tetangga, Kawan dan Negara untuk membelikannya
4. Karena merasa gerah dan panas.
Lebih panas mana dengan api neraka ??
5. Takut tidak istiqamah.
Ketakutan melakukan perintahNya adalah berasal dari setan. Lakukanlah dengan niat yang benar, mintalah doa dan semangat dari kawan-kawan yang udah berjilbab duluan. Kuti ta’lim-ta’lim dan berkumpullah dengan orang alim
6. Takut tidak laku, jadi selama ia belum menikah, maka ia tidak mengenakan jilbab.
Jodoh adalah urusanNya. Kalo kita menginginkan suami yang soleh tentu kita harus mensolehkan diri kita dahulu. Dengan menghijabi fisik dan hati kita.
7. Menampakkan anugerah tubuh yang indah atau ingin menghargai kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.
Ini adalah bisikan setan. Menampakkan keindahan tubuh pada org lain berakhir bencana (pemerkosaan, dll) dan neraka. Tapi menampakkannya pada suami adalah ibadah yang berpahala dan insyaAllah mengantarkan ke surga
8. Belum mendapat hidayah, jilbab itu ibadah. Jika Allah memberi hidayah, pasti kami akan mengenakannya.
Hidayah itu dikejar bukan ditunggu. Allah akan mengubah nasib loe jika kita memang mau berusaha menjadi lebih baik (liat surat Ar Ra’du ayat 11)
9. Belum waktunya. Sebagian ada yang berkata bahwa mengenakan jilbab itu harus tepat waktunya, misalnya karena masih anak-anak atau masih remaja. Ada yang akan mengenakannya jika sudah tua. Atau jika sudah menunaikan ibadah haji.
Padahal seharusnya sejak dini kita musti belajar, agar terbiasa. Kalo niatan loe ingin memakainya kalo dah nenek-nenek, gimana kalo besok loe mati ??.
10. Tidak mau dianggap sebagai orang yang mengikuti golongan tertentu.
Justru dengan memakai jilbab identitas kita akan jelas. Seorang muslimah. Jika tidak, bisa jadi yang liat bingung. Apa loe Nasrani, Majusi, Atheis. Kalo tidak mau dianggap sebagai muslimah, yo wes lah.

Fakta menunjukkan, di negara-negara Barat yang kehidupannya dipenuhi dengan pornografi dan pornoaksi, angka perzinaan dan pemerkosaannya amat mengerikan. Di AS pada tahun 1995, misalnya, angka statistik nasional menunjukkan, 1,3 perempuan diperkosa setiap menitnya. Berarti, setiap jamnya 78 wanita diperkosa, atau 1.872 setiap harinya, atau 683.280 setiap tahunnya! Realitas ini makin membuktikan kebenaran ayat ini: Dzâlika adnâ an yu'rafna falâ yu'dzayn (Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal sehingga mereka tidak diganggu).
Bagi wanita, jilbab juga dapat mengangkatnya pada derajat kemuliaan. Dengan aurat yang tertutup rapat, penilaian terhadapnya lebih terfokus pada kepribadiannya, kecerdasannya, dan profesionalismenya serta ketakwaannya. Ini berbeda jika wanita tampil 'terbuka' dan sensual. Penilaian terhadapnya lebih tertuju pada fisiknya. Penampilan seperti itu juga hanya akan menjadikan wanita dipandang sebagai onggokan daging yang memenuhi hawa nafsu saja.


baca selengkapnya...

Rabu, 18 Mei 2011

MENCARI “TOMBOL” KEBAHAGIAAN, SEGAMPANG MENG”KLIK” TOMBOL PLAY PADA WINAMP



Sobat, kalo semisal saya bertanya, “Semua peristiwa, kejadian, masalah dan segala akitvitas dimasa lalu dan yang akan datang, itu membuat kita merasa bahagia dan atau kecewa, betul apa tidak ?”. Saya yakin semua pasti akan menjawab “BETUL !!” (saya beri huruf balok untuk menandakan bahwa betapa yakinnya anda dengan jawaban tersebut). Atau mungkin ada yang mengatakan,”Ah, itu sih pertanyaan gampang!”. Di bilang gampang bisa jadi karena pertanyaan tersebut hanya membutuhkan jawaban benar atau salah. Jadi fifty fifty. Atau bisa jadi karena pertanyaan tersebut memang benar-benar “gampang”. Terus bagaimana jika ternyata jawabannya “TIDAK ?”, saya yakin anda semua pasti akan penasaran dan lebih menyimak tulisan di bawah ini.

Sobat, perasaan “bahagia” dan “kecewa” diatas merupakan dua perasaan yang mewakili “genre” masing-masing kondisi hati. Bahagia mewakili senang, damai, nyaman, puas, dan sejenisnya. Begitu pula sebaliknya, kecewa mewakili sedih, marah, jengkel, dengki, dan sejenisnya. Dua perasaan inilah yang sering berkecamuk dan “bertarung” dalam diri kita tatkala kita menghadapi sebuah peristiwa, kejadian, ataupun masalah. Perasaan apa yang menang, sebenarnya tergantung dari seberapa besar kita bisa memahami manakah yang menentukan dua perasaan itu. Peristiwa, kejadian, dan masalah kah atau diri kita sendiri.
Sebenarnya kita sendirilah yang menentukan dua perasaan tersebut. Apapun kejadian, peristiwa, masalah baik di masa lalu maupun yang akan datang jika kita mampu untuk selalu menghadirkan perasaan bahagia maka tidak peduli seberat apapun kejadian, begitu menyedihkan dan mengharu birunya peristiwa atau sepelik apapun masalahnya, kita akan tetap bahagia. Begitu pula sebaliknya, kejadian-kejadian yang seharusnya menyenangkan, namun kalau hati kita bersedih dan kecewa ya capek deh. Jadi, mau ada peristiwa yang seharusnya sedih, kecewa, kesal, atau apalah kalau kita bisa “menyetel” dan menekan “tombol” bahagia kita, so what gitu loh.
Sekarang pertanyaan selanjutnya adalah “Bagaimana kita bisa selalu menghadirkan perasaan bahagia disetiap peristiwa, kejadian atau masalah yang kita hadapi ?”, pasti kita semua akan menjawab “SULIT!”. Bagaimana jika saya menjawab “Tidak sulit kok!, bahkan segampang kita menekan tombol play pada winamp!”. Saya yakin pada saat ini anda sudah gregetan dengan tulisan ini.
Sobat, tatkala Tuhan meniupkan ruh kehidupan pada diri kita yang ada pada rahim ibu tercinta, pada saat itulah Dia memberikan “value of Gods” atau nilai-nilai Ketuhanan pada diri kita. Sifat-sifat kebaikan sudah built in ada tatkala kita lahir. Itulah mengapa bayi yang baru lahir dikatakan suci. Bahkan dikarenakan kita makhluk yang sempurna sampai-sampai Tuhan memerintahkan makhluk yang lain untuk “sujud” pada Adam, manusia pertama. Iblispun kecewa dan akhirya bersumpah untuk menebarkan perasaan “kecewa” kepada seluruh anak cucu Adam.
Dan, sobat perasaan “terkutuk” itu, kecewa, secara sadar maupun tidak ternyata lebih sering kita tekan “tombol”nya tatkala menjumpai masalah. Biasanya didahului dengan negatif thinking terhadap masalah. “Ah soal ini sulit, saya pasti gagal”, “Kenapa ya si Fulan kok selalu dapat nilai seratus, pasti ada main dengan guru itu”, “Ortuku gak adil, masak memberi uang saku kakak lebih banyak dari aku”, “pusiiing, deh”. Kalimat-kalimat tadi adalah secuil contoh tatkala kita mengawali sebuah peristiwa. Ya, kita terlalu sering mengawali setiap peristiwa dengan kecewa. Maka yang terjadi adalah serentetan kejadian yang membuat kita benar-benar kecewa, lalu putus asa, dengki, hasut dan perasaan buruk lainnya. Padahal sejak awal kita adalah makhluk yang sempurna, yang seharusnya sebanding dengan bahagia. Yang seharusnya mengawali setiap peristiwa dengan perasaan bahagia pula.
Kalau boleh saya mengatakan, bahwa semua peristiwa dan kejadian akan terekam oleh otak kita. Otak ini akan bersifat obyektif. Dia akan menyampaikan ke hati kita semua “data-data” tentang peristiwa dan kejadian yang kita alami tanpa sedikitpun dikurangi atau ditambah. Hati yang saya maksud disini adalah sumber perasaan manusia. Hati yang membeku tentu akan sulit untuk menentukan sikap, apakah akan bahagia atau kecewa. Artinya jika “data” yang diberikan otak kita adalah “data-data” kecewa maka hatipun akan ikut kecewa. Namun hati yang menemukan kebahagiaannya sudah barang tentu akan menolak hal tersebut. Apapun “data” yang diberikan oleh otak, akan diolah menjadi “perasaan bahagia”. Hal ini akan terlihat pada setiap orang yang selalu tegar, tersenyum dan tetap fight seberat apapun masalah dia.
Sobat, mari kita lihat komputer. Saat pertama kali kita beli, tentu kita akan berpikir untuk mengisinya dengan program / software yang menyenangkan dan membahagiakan kita. Yang suka nonton film, maka akan diisi software power DVD, Media Player, dll. Yang suka musik akan menginstal winamp, mp3 player, dll. Yang suka game akan menginstal counterstrike, zuma, dll. Yang suka ngenet akan mengupdate web browser terbaru, seperti IE 7, firefox atau opera agar lebih cepat internetannya. Tidak mungkin kan kita mengisinya dengan virus atau spam. Tidak. Virus baru akan datang, melalui flashdisk kita sendiri, file yang kita masukkan atau melalui teman yang pinjam komputer kita dengan membawa cd program yang penuh dengan virus. Kalau kita tidak tahu bagaimana cara mengatasi virus pada komputer tentu hal ini akan mengganggu “kebahagiaan” kita dalam menggunakan komputer. Pada prinsipnya hampir semua virus ada antivusnya, tergantung dari kita tahu apa tidak. Sama halnya dengan manusia. Setiap masalah pasti ada jalan keluar. Namun kita sendiri yang terkadang justru menutupinya dengan perasaan kecewa akibat dari hati yang membeku.
Pertanyaan saya selanjutnya, dari mana anda tahu bahwa untuk memainkan winamp harus klik ini, untuk bermain game klik tombol itu, untuk menonton film anda tinggal klik ini?
Mungkin jawabannya beragam. Ada yang menjawab diberitahu teman, guru TIK, membaca buku, mencoba-coba trial and error, dll. Namun pada intinya, anda berusaha kan. Dan ketika berhasil, maka untuk selanjutnya gampang sekali bagi anda mengulanginya.
Sobat, begitu pula untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana kita bisa selalu menghadirkan perasaan bahagia disetiap peristiwa, kejadian atau masalah yang kita hadapi ?”. Maka kita harus mencari “tombol”nya. Berusaha. Sekali kita menemukannya maka untuk kedua kali dan seterusnya akan gampang sekali untuk “memainkannya”. Tinggal “klik”. Bahagia disini maksud saya adalah bahagia yang hakiki. The true happiness. Bukan bahagia semu. Berbahaya sekali jika kita justru menganggap bahagia semu itulah kebahagian sejati kita. Maka kasihan sekali kita. Karena bahagia semu hanya senang diluar namun hati menangis. Dan jangka waktunya pendek atau sesaat. Jika sudah selesai, maka bisa jadi perasaan kecewa luar biasa yang muncul. Bahagia yang hakiki artinya adalah kita mencari kebahagiaan tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Kebahagiaan itulah yang harusnya kita tuju dan cari. Kebahagiaan yang hakiki bagi kita adalah saat berjumpa dengan Tuhan di surga. Otomatis jika kebahagiaan seperti itu yang kita cari, maka dalam hidup kita akan selalu berada pada jalan-Nya, mengikuti aturan main yang telah ditentukan-Nya dan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi larangan-Nya. Sehingga dalam menghadapi peristiwa, kejadian ataupun masalah kita selalu merasa bahwa Dia ada dan mengawasi kita bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Dan bagi kita, terutama muslim, tidaklah sulit untuk mencari kebahagiaan itu dikarenakan “pedoman hidup” sudah ada dan bahkan seringkali kita baca tiap hari. Tinggal kita mau apa tidak untuk menghayati, dan mengamalkannya.
Sobat, saat Zat yang Maha Kuat berada di dekat kita, siapa yang bisa mengalahkan kita. Saat Dia mencurahkan kasih & sayang-Nya mengapa kita harus kesepian dan bermuram durja. Tatkala Dia membuka pintu rejekinya mengapa kita merasa hampa & papa. Tatkala Dia menebar “ilmu”-Nya di penjuru alam semesta mengapa kita masih seperti orang jahiliyah. Bukankah selayaknya kita bahagia ?
Saya begitu yakin, ketika kita mampu mengawali setiap peristiwa dengan menekan tombol bahagia, maka kejadian-kejadian selanjutnya akan berlangsung dan berakhir dengan bahagia pula. Walaupun mungkin ditengah-tengahnya ada masalah yang membuat kita bersedih atau kecewa, namun hal itu tidak membuat saya terus-terusan sedih dan kecewa, justru dengan “menekan” secara terus menerus “tombol bahagia”, saya dengan mudah menyingkirkan perasaan sedih dan kecewa itu. Saya sering mengalaminya, begitupun juga dengan orang-orang yang telah menemukan “tombol” kebahagiannya. Selanjutnya, bagaimana dengan anda ?
Selamat berbahagia…

baca selengkapnya...

Senin, 02 Mei 2011

Mengapa Sekolah Harus Mahal ?



Sobat, bulan Juli biasanya para orang tua sibuk mencarikan sekolah bagi anak-anaknya. Yang lulus SD sibuk mencari SMP yang negeri. Yang lulus SMP juga sibuk mencari SMA. Yang penting negeri. Menurut orang tua, lebih murah menyekolahkan anaknya di sekolah negeri, daripada di swasta. Ada uang bantuan dari negara. Tidak hanya itu kualitas sekolah negeri & prestise juga menjadi alasan orang tua menginginkan anaknya di negeri. Akhirnya berbagai cara pun diambil agar anaknya bisa masuk di negeri. Ada yang melalui jalur “belakang”, menggunakan kekuasaan, kekerabatan, dsb.

Sobat, tidak sedikit orang tua yang merasa kecele. Terutama mereka yang berharap murah sekolah di negeri. Ternyata juga banyak tarikan sana-sini. Biaya ini itu. Sekolah swasta sekarang pun sudah banyak berbenah, meningkatkan kualitas mereka. Bersaing dengan negeri. Saya tidak akan membahas saling saing ini. Faktanya banyak sekali anak usia sekolah yang tidak melanjutkan sekolah. Mereka lebih memilih bekerja, berjualan koran, jadi asongan, atau mengemis di jalan-jalan. Cobalah tengok di perempatan jalan raya. Anaka-anak itu pasti ada. Pemerintah cukup tutup mata dan telinga. Melenggang dengan mobil berplat merah yang mewah. Bukankah sekolah gratis ? seperti yang ada di iklan-iklan ?. Sobat, monyet pun tidak percaya dengan hal ini.
Bahkan sekolah tinggi (universitas / institut) pun sudah menjadi lahan bisnis. Tidak peduli yang negeri ataupun yang swasta. Semua berlomba-lomba sebagai kampus yang eksklusif. Apalagi dengan status BHMN, dimana negara seolah sudah tidak mau turut campur mengenai rekrutmen calon mahasiswa sampai biaya kuliah. Maka timbulah jalur-jalur khusus (ada yang sampai jalur A, B, C, D) bagi calon mahasiswa berduit tebal. Sehingga orang tua yang anaknya lulus mengalami dilema. Disatu sisi senang karena anaknya masuk perguruan tinggi negeri. Apalagi kalau masuk PTN favorit, dengan jurusan favorit pula. Namun disisi lain mereka akan terperangah melihat biaya yang sangat mahal hanya untuk registrasi masuk. Belum biaya kuliah selama 4 tahun (kalau S1). Ada biaya Pembangunan, biaya Sukarela, biaya Praktikum, dan macam-macam biaya lainnya. Jumlahnya tidak sedikit.
Saat saya ngobrol dengan salah satu ibu single parent yang anaknya baru diterima di universitas favorit di Jatim (tidak usah saya sebut ya) melalui jalur umum (SNMPTN) yang pengumumannya baru hari Sabtu (01/08) kemarin. Raut mukanya seperti orang yang mengalami perasaan senang & sedih jadi satu. Ibu ini kemudian menyodorkan beberapa lembar kertas hasil cetakan download di kampus tersebut mengenai rincian biaya yang harus dibayar anaknya hanya untuk registrasi. Totalnya lebih dari 6 juta. Belum biaya SPP / semester. (sobat bisa bayangkan ga, kalau di terima lewat jalur khusus ? biayanya bisa berlipat-lipat dari ini). Belum juga biaya hidup di kota tersebut. Padahal ibu ini hanyalah pensiunan yang ditinggal mati suaminya. Selain biaya kuliah, dia juga harus membiayai biaya sekolah anaknya yang lain. Ketika saya tanya, apa cukup penghasilannya untuk membiayai anak-anaknya sekolah ? ibu ini hanya diam. Mau menangis. Ya Allah…saya juga jadi pingin ikut menangis. Itu adalah pertanyaan bodoh. Lalu cepat-cepat saya mengakhiri pembicaraan ini. Bukannya saya ingin kabur, namun sudah banyak ibu-ibu (ortu) seperti ini yang saya temui. Dan saya tidak kuat ketika mendengar & melihat beban yang harus mereka tanggung untuk anak-anak mereka.
Terlalu banyak sobat, cerita tentang anak yang tidak mampu sekolah/kuliah dari segi ekonomi bukan dari segi kecerdasannya. Salah satu murid saya pernah masuk koran lokal diwawancarai sambil menangis tentang masa depannya. Padahal ia adalah salah satu siswa dengan nilai UAN (Ujian Akhir Nasional) terbaik di kota.
Kemudian muncul pertanyaan, mengapa sekolah harus mahal ? apa salah jika orang tua melakukan berbagai cara (korupsi) demi anaknya ? dimana peran negara ?
Sobat, sekolah tidak harus mahal. Bahkan bisa GRATIS !!. Sungguh sobat.

Ini adalah beberapa sebab mengapa sekolah itu mahal :
1. Peran negara sangat minim
2. Perencanaan kebijakan sistem pendidikan yang sering “uji coba”
3. Sumber daya alam melimpah tidak terdistribusi dengan baik
4. Sumber daya manusia masih rendah kualitasnya
5. Keikutsertaan swasta dalam bidang pendidikan hanya dilatarbelakangi oleh nafsu “bisnis”
6. dll, dsb
Sobat, saya teringat kisah sejarah khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada masa pemerintahannya sekolah mulai dari tingkat dasar hingga semacam perguruan tinggi itu gratis. Bahkan bagi mereka yang menempuh jarak jauh (hei..belum ada mobil, adanya unta) disediakan tempat-tempat peristirahatan. Dan juga ada insentif bagi mereka yang tidak mampu. Dan tahukah sobat, profesi apakah yang mendapat gaji terbesar ? GURU !!. Sehingga tidaklah mengherankan tatkala zakat dibagikan, para amil zakat kebingungan mencari mereka yang berhak menerimanya, karena rakyatnya mampu-mampu. Karena rakyat semuanya mengenyam pendidikan. Dan dengan pendidikan itulah mereka mengejar rezekinya. Mengejar kesejahteraannya. Menumpuklah uang di baitul maal. Lihatlah sekarang pembagian BLT dibarengi dengan pertumpahan darah. Beberapa meninggal karena berebutan. Itu pertanda masyarakat miskin. Masyarakat kurang mengenyam pendidikan.
Pada tahun 70an, Malaysia, Vietnam dan beberapa negara Asia mengirimkan putra-putra terbaiknya untuk belajar di Indonesia. Pada saat itu memang kuku Indonesia menancap tajam di benua Asia. Sekarang justru terbalik. Kita yang mengirim buruh-buruh kasar ke negara-negara tersebut untuk diperkosa dan disiksa. Negara, seperti biasa hanya bisa mengelus dada melihat ada warganya yang terdzolimi di negara lain. Seperti macan yang ompong.
Sobat negara-negara tersebut mengalokasikan dana yang sangat besar dalam bidang pendidikan. Karena tidak ada negara manapun yang akan rugi ketika mereka memberi perhatian yang serius pada pendidikan. Ini investasi jangka panjang. Negara memberi insentif, keringanan, dsb kepada mereka yang cerdas, mempunyai kemauan yang tinggi untuk mengenyam pendidikan. 5-10 tahun lagi negara lah yang akan memetik hasilnya. Karena putra-putra terbaik yang dibiayai sekolah oleh negara akan memberikan sumbangsih yang terbaik pula untuk negara. Inilah yang terjadi di Malaysia, Singapura, Vietnam, Thailand, dll. Kita, hanya berantem melulu.

Untuk menggratiskan sekolah memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan manajerial yang serius dan sistemik. Orang-orang yang membuat kebijakan tentunya yang paham tentang seluk beluk pendidikan. Merekalah yang mengatur bagaimana sistem pendidikan, mulai dari kurikulum, tata laksana pendidikan, dan tentu saja upah / gaji dari guru.
Sobat, banyak sekali para guru (terutama mereka yang non PNS) yang mencari pekerjaan sampingan. Atau mereka dobel job. Kalau mengharap upah dari mendidik di sekolah saja tentu tidak cukup. Sebulan ada yang dibayar hanya 200rb. Tentu sangat kurang, terlebih bagi mereka yang mempunyai tanggungan di rumah. Sehingga fokus mereka terbagi. Yang penting kalau jam mengajar selesai langsung cabut (he..he kayak pengalaman pribadi nih). Terus bagaimana dengan mendidik, padahal ini adalah proses yang sangat penting daripada hanya mengajar ?.
Indonesia mempunyai sumber daya alam yang sangat melimpah, jauh daripada negara-negara maju kayak di eropa atau amerika. Kalau pengelolaan sumber ini benar dan digunakan untuk peruntukannya (lihat dong UUD ayat 33), artinya negara mengelola dan dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk pemberian fasilitas umum (kesehatan, pendidikan, dll) secara gratis atau murah. Ini sangat bisa untuk dilakukan. Namun faktanya banyak sekali sumber daya alam kita yang justru lari ke luar negeri (liat deh Freeport, exxon, dll). Belum lagi anak bangsa yang suka gerogoti negaranya sendiri dengan tangan-tangan terampil (baca : korupsi).
Sobat, memang negara telah memberikan pos anggaran 20% untuk pendidikan (walaupun realitanya baru 10%an). Bagi saya ini jumlah yang sedikit. Tanpa meremehkan bidang yang lain, pendidikan memegang peranan yang sangat vital bagi kemajuan suatu bangsa. Jika masyarakatnya cerdas (tentunya selain dari IQ, juga SQ dan EQ dong) maka pembangunan akan pesat. Dan untuk mencerdaskan masyarakat, negara tidak boleh tutup mata & telinga dengan penderitaan rakyat atas mahalnya biaya sekolah. Pemerintah tidak usah itung-itungan untung rugi dalam memberikan insentif, keringanan atau bahkan pembebasan biaya bagi mereka yang kurang mampu. Toh ini untuk investasi jangka panjang. Pemerintah juga tidak usah ragu untuk memberikan kenaikan penghargaan bagi guru karena ditangan mereka calon-calon pemimpin bangsa ini ditempa.
Jadi seharusnya pendidikan itu bisa murah bahkan gratis. Semoga.

baca selengkapnya...

Siapakah capres idolamu ?

 

blogger templates | Make Money Online